Oleh : Wahyu Barata
Strategi untuk meningkatkan citra diri, nama, dan sosok kita di benak masyarakat, sekarang ini yang tengah menjadi trend adalah penggunaan Personal dan I – Branding.
Ketika Tung Desem Waringin, motivator heboh itu, menebar uang seratus juta rupiah dan undangan seminar bernilai enam miliar rupiah dari udara, ia menegaskan bahwa tindakannya itu bukan aksi sosial. Ia sedang melakukan gebrakan marketing untuk penjualan buku keduanya “Marketing Revolution”.
Pada peluncuran buku pertamanya “Financial Revolution” ia berkuda ala Pangeran Diponegoro di jalan-jalan protokol ibu kota negara Republik Indonesia. Penjualan bukunya sukses besar pada kedua event tersebut, akibat aksi yang dilakukannya.
Di lain pihak, Tukul Arwana, pembawa acara “Bukan Empat Mata” di Trans 7, pelawak ndeso yang rela diejek habis-habisan, berhasil mengangkat citra dirinya. Sebenarnya kedua orang itu tengah menyegarkan personal brandingnya masing-masing dan berhasil meningkatkan pamornya di masyarakat. Segala yang dipikirkan orang lain tentang Tukul dan Tung Desem Waringin, meskipun keduanya berbeda, berhasil melekatkan sesuatu yang unik.
Mereka pun sukses dalam menciptakan persepsi, pendapat, atau kesan masyarakat terhadap mereka (personal branding). Tetapi dampaknya bisa positip atau negatip.
Menurut Joseph Heller dari The Samurai Group, fondasi personal branding bertumpu pada asumsi bahwa kenyataan adalah hasil kumulatif dari persepsi, sikap dan perilaku. Dari sisi komunikasi, upaya personal branding terbentuk dari pesan yang diberikan, seberapa efektif disebarkan oleh media, dan bagaimana pesan yang disebarkan itu diserap oleh pasar tertentu.
Personal branding yang positip akan memberikan pengembalian investasi atau tingkat keuntungan yang lebih besar. Faktor-faktor penting dalam pengembangan personal branding sebagai berikut:
1. Genius quality: kemampuan yang jauh di atas rata-rata akan membuat kita menonjol;
2. Kemampuan yang unik: keahlian yang khas yang ditunjang upaya keras yang terfokus akan memberikan hasil lebih yang mudah terlihat;
3. Kepribadian yang baik: sikap dan perilaku yang sopan meningkatkan citra;
4. Falsafah hidup yang terpuji: falsafah yang berbunyi “memberikan teknologi yang mempermudah kehidupan manusia” (Gates) dan “membuat hidup lebih fun.” (Bronson);
5. Integritas yang tinggi: selalu menjaga etika bisnis dengan mitra bisnis.
6. Gaya atau penampilan yang berbeda: jadilah jeruk di antara apel, sehingga konsumen dengan mudah bisa membedakan dari kumpulan yang ada.
7. Pengalaman yang matang: pengalaman merupakan pengetahuan, di luar itu hanya sekadar informasi (Albert Einstein)." Kita mau ke mana dan menjadi apa? Tergantung karakter yang kita pilih sendiri. Proses pembentukan karakter pribadi dalam bisnis menciptakan personal branding. Proses ini melibatkan visi, keahlian, kepribadian, sikap, dan sifat-sifat unik seseorang yang kemudian dikemas menjadi identitas pribadi yang membedakan sekaligus punya kekuatan lebih dibandingkan para pesaingnya.
Brand building merupakan upaya membangun citra positip terhadap perusahaan atau produknya. Bukan pribadi-pribadi yang menjadi otak di balik sukses suatu perusahaan atau produk. Peter Montoya dan Tim Vandehey dalam buku “The Brand Called You” menyatakan branding harus sesuai dengan kepribadian, prestasi, serta kebutuhan stakeholders kita.
Karakter low profil sangat penting, dengan menjaga sikap agar lebih banyak menunjukkan bukti daripada hanya sekadar promosi berlebihan. Ada tiga faktor yang dapat membentuk citra seseorang, yaitu integritas (menyatu dengan moment dan pekerjaan, bersikap sebagai profesional, menjaga etika bisnis dengan mitra bisnis), differensiasi yang mencerminkan identitas diri (karakter dan kemampuan yang unik dan berbeda dari yang lain, sehingga mempunyai nilai lebih), dan attitude (berwawasan dan berpengetahuan luas dengan mental yang teruji).
Adapun tahapan-tahapan personal branding:
1. Memantapkan tujuan jangka panjang, artinya mencari tahu objektif dan sasaran yang ingin dicapai. Apakah ingin sukses menjadi presiden, berhasil menjadi pengusaha ternama, atau sukses sebagai artis? Masing-masing memiliki target yang perlu ditentukan sejak awal;
2. Mengenali siapa pemangku kepentingan (stakeholders) itu. Setiap orang dengan kedudukannya pasti memiliki kategori pemangku kepentingan yang berbeda-beda. Dengan memahami mereka, lebih mudah bagi seseorang yang ingin melakukan personal branding menempatkan diri. Ketika berhadapan dengan teman sejawat, umpamanya, tentu berbeda dengan ketika menghadapi anak buah, baik dalam penampilan atau memilih bahan pembicaraan;
3. Mengkaji persepsi stakeholders dengan tujuan mendapat dukungan. Dari stakeholders harus dicari tahu apa sesungguhnya persepsi yang berkembang di antara mereka terhadap tokoh itu. Tidak mungkin dipaksakan atau diciptakan persepsi yang positip saja karena ia muncul dari apa yang mereka dengar, lihat, dan alami. Dengan mengkaji persepsi yang tumbuh di masyarakat, jauh lebih mudah mengidentifikasi masalah sambil memformulasikan program komunikasinya;
4. Menyusun strategi komunikasi: puncak aktifitas personal branding. Strategi itu terkait dengan pilihan media yang digunakan, positioning yang ingin ditegaskan, segmentasi khalayak, sasaran yang dituju, dan identitas yang ingin dikenali. Strategi komunikasi akan memperlihatkan kecermatan dan kecerdasan konsultan personal branding sebab dalam praktek banyak alternatif media yang dapat dimanfaatkan. Kemampuan konsultan personal branding menerjemahkan kebutuhan dan kekuatan si tokoh akan menjadi nilai lebih;
5. Memasuki action plan, time schedule, dan berbagai bentuk kampanye. Dalam bahasa sederhana, tahap ini merupakan tahapan eksekusi setelah rancangan program komunikasi dibuat.
Pada akhirnya, semua itu akan membentuk persepsi positip yang akan menciptakan citra positip. Kelima tahap di atas hanya merupakan alat bantu eksternal yang dapat diberikan kepada seseorang yang ingin membentuk personal branding. Sedangkan dukungan dari dalam diri orang itu sendiri, ada lima kemampuan yang harus dimiliki, yaitu komunikasi, pemahaman isu, pemahaman komunikasi, appearance (pembentukan citra diri dari dalam), dan manajemen krisis.
Branding kuat bukan monopoli kaum selebriti saja. Personal branding memang digunakan untuk menjadikan seseorang sebagai figur public, ahli, atau tokoh tertentu. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, di luar semua itu, di lingkungan kerja maupun sosial dikenal branding yang lebih berorientasi kepada diri sendiri (I - branding).
Gary C. Sain, pada tahun 2005 memperkenalkan istilah I – Brand, menguraikan lima cara untuk menegakkannya:
1. Punyakah Anda keunikan atau differensiasi yang bernilai di mata target audience? (unik)
2. Selain Anda, ada berapa orang lagi yang bisa memberikan kontribusi yang sama nilainya? (relevan)
3. Anda selalu siap memberikan yang terbaik? (kredibel)
4. Anda pribadi yang bisa diandalkan dan layak dipercaya? (esteem)
5. Seberapa luas pengetahuan Anda tentang apa yang sedang digeluti, dan mengertikah Anda apa yang terjadi di tingkat konsumen, serta di tingkat perusahaan atau industrinya? (knowledge)
(Dharnoto, 2008): Dengan strategi pembinaan diri untuk menjadi seseorang yang bernilai tinggi di stakeholder-nya, untuk meraih tempat atau posisi yang diinginkan, kerja keras, perencanaan, mengemas diri, dan melakukan branding dengan baik, seseorang bisa memiliki I- Branding.
Target audiens, intensitas, dan cara berkomunikasi dalam I- Branding berbeda dengan Personal Branding. Personal Branding berorientasi kepada yang bersifat umum, dalam I- Branding yang ditargetkan biasanya tersegmen karena mencakup lingkungan tertentu dari kehidupan seseorang.
Sedangkan persamaannya adalah keduanya harus digarap dengan serius dan fokus, meskipun tidak menggunakan media massa, seseorang bisa memperkenalkan dirinya dan memproyeksikan kemampuan, keunikan, dan differensiasi personalnya melalui kontak langsung dengan target audience.
Ada beberapa pertanyaan klasik ketika kita akan membuka forum, seperti, siapakah Anda? Kuliah di mana sekarang? Bekerja di mana sekarang? Pada bidang apa? Pada posisi apa? Siapa saja yang Anda kenal? Siapa saja yang mengenal Anda? Saat berhadapan dengan audiens, pemilihan bahasa verbal dan non-verbal (bahasa tubuh) harus diperhatikan. Ciptakan kenyamanan untuk pihak lain selama berinteraksi.
Pakaian yang mengemas penampilan bisa ikut mendorong terciptanya I- Branding. Kegagalan berkomunikasi bisa berdampak luas pada proyeksi nilai-nilai I-Branding yang sudah dirancang sebelumnya.
Amalia E. Maulana, Ph. D., Head of School Marketing Binus Business School menguraikan lima langkah utama membangun I – Branding. Namun, tentukan dulu akan menjadi apa Anda lima tahun atau sepuluh tahun mendatang, apa yang dibutuhkan untuk mencapai target itu dan bagaimana agar bisa mencapai tujuan?
1. Identifikasi siapa target audience dalam kelompok stakeholders, buatlah ranking kepentingan mulai target utama hingga sampingan, pahami kebutuhan dan aspirasi mereka, pelajari siapa saja pesaing Anda?;
2. Posisikan I – Branding Anda di tempat yang unik, relevan, dan punya differensiasi tertentu;
3. Desain diri Anda agar sesuai dengan positioning I – Branding tersebut, misalnya benahi packaging diri Anda melalui jenjang pendidikan atau isi dengan prestasi;
4. Implementasikan nilai yang telah Anda janjikan dengan konsisten memberikan kontribusi terhadap target audience. Juga ciptakan brand experience yang menyenangkan, misalnya menciptakan moment-moment yang punya nilai.
5). Evaluasi keberadaan I – Branding Anda, seberapa meleset kenyataan dari target, sesuaikan langkah dan arah bila terjadi perubahan eksternal yang di luar kendali. Dengan branding yang kuat, kita bisa memiliki keuntungan kompetitif, sehingga bargaining power lebih tinggi. Juga tidak terlalu bergantung pada brand lain, antara lain brand perusahaan tempat bekerja (co – branding). Selain itu, akan mendapat banyak dukungan dan kerja sama dari rekan atau aliansi lain, apa lagi jika kualitas dan kapasitasnya diakui dan sangat terpercaya, sehingga berpotensi mengembangkan extensions.
Conrad Nicholson Hilton (1887–1979), pendiri dan presiden direksi Hilton International Corporation, karirnya berawal saat ia menjawab dengan tenang, “Kita gunakan lima atau enam kamar di rumah kita dan mengubahnya menjadi ruang tidur, seperti hotel. Kota ini butuh hotel. Mungkin mula-mula kita tak punya pelanggan, tetapi ceritanya akan tersebar dan semua akan berjalan sendiri. Anak-anak perempuan dan Ibu bisa mengurusi dapur dan saya akan mengurusi bawaan para tamu. Tiap kamar dapat menampung beberapa tamu. Dengan ongkos $2,50 sehari, saya pikir kita akan cukup beruntung. Sudah jelas, masalahnya adalah bagaimana menarik pelanggan-pelanggan.”
Awal masa kerja keras bagi Hilton. Ibu dan saudara-saudara perempuannya mengurusi hotel, sementara ia dan ayahnya bekerja di toko. Saat toko tutup pukul enam sore, Hilton makan malam sedikit, dan langsung tidur. Ia bangun tengah malam, lalu menjemput orang-orang yang turun dari kereta api jam satu dini hari. Ia mengurusi barang-barang mereka, mendaftar mereka, mengecek apakah kebutuhan mereka seperti selimut, sabun, dan handuk sudah tersedia? Mencatat sarapan yang mereka inginkan di pagi hari dan jam berapa mereka minta dibangunkan.
Ia memberikan catatan itu kepada ibu, lalu kembali ke stasiun untuk menyambut kereta jam tiga pagi. Bila penumpang terakhir mendapat penginapan, Hilton tidur lagi, setidaknya sampai jam tujuh pagi. Pada jam itu ia bangun, mengurusi para tamu, lalu membuka toko jam delapan pagi.
Dalam waktu sebulan penginapan San Antonio terkenal di seluruh daerah itu, bahkan sampai ke Chicago. Orang-orang pun berkata, “Kalau Anda harus singgah, menginaplah di penginapan Hilton di San Antonio.” Ia selalu bekerja keras dan lama untuk berhasil.
Inilah awal masa magangnya dalam dunia bisnis. Tunjukkan sikap hormat kepada siapa saja yang Anda hadapi. Prinsip ini membantunya dalam menghadapi pemerintah Puerto Rico, yang telah menghubungi tujuh hotel Amerika untuk meminta mereka membuka satu hotel mewah di San Juana. Tak satu pun hotel tertarik, dan menjawab dengan surat bisnis yang pendek dan tak ramah dalam bahsa Inggris. Hilton menjawabnya dalam bahasa Spanyol yang sempurna. Suasana jadi sangat berbeda. Maka lahirlah rangkaian hotel Caribe – Hilton.
Dalam urusan bisnis di luar negri, Hilton menerapkan tiga prinsip di dalam negeri, yaitu tanamkan modal sendiri, perlakukan bankir-bankir sebagai teman, berikan pada manajer saham dalam perusahaan. Hilton lebih suka menawarkan kemitraan kepada para investor luar dalam hotelnya. Ia melayani teknis dan pengoperasian hotel. Lalu kedua pihak menandatangani kontrak sewa bersama atau kontrak manajemen bersama. Personil yang disaring dan dipilih dengan teliti dari tenaga setempat, diundang untuk meningkatkan kemahiran mereka di hotel-hotel Hilton di Amerika Serikat. Pria yang memiliki visi ini telah mengukir namanya dalam sejarah.
Tahun 1965, Hilton mempunyai 61 hotel di 19 negara dengan 40.000 kamar dan tenaga kerja mencapai 40.000 orang. Hilton menguasai 30% dari besar penerimaan yang diperkirakan mencapai $ 500.000 juta lebih.
Perubahan strategi branding dari diri sendiri dapat membuat I – Brand tetap relevan. Jika ingin menanamkan perubahan makna tentang diri kita kepada stakeholders yang dikenal di dunia pemasaran dengan repositioning. Apabila perubahannya cukup mendasar sampai harus merubah identitas atau nama, disebut rebranding.
Misalnya seseorang dikenal akan sejumlah tindakannya yang kurang terpuji. Atau bahkan berasal dari dunia hitam. Namun, ia pelan-pelan mengubah brand dengan menjadi penderma terbesar pada berbagai kegiatan sosial. Walau berada di balik layar, peranannya tersebar dari mulut ke mulut.
Anton Medan, dulunya preman sekarang menjadi mubaligh dan aktif berdakwah melalui pesantren yang didirikannya. Gito Rollies berhasil mengubah brand-nya dari penyanyi rock menjadi da’i dan akhirnya wafat dengan damai.
Menghadapi pemilu 2009 lalu, beberapa tokoh tampil setiap hari di televisi melakukan personal branding agar tercitrakan sebagai tokoh paling didambakan masyarakat. Seperti Wiranto yang siap memberi solusi atasi kemiskinan. Prabowo Subianto, wakil kaum yang terpinggirkan meski berpotensi besar menyelamatkan bangsa.
Siapa pun atau apa pun yang dilakukan, pasti mengarah ke target yang sama, yaitu peningkatan citra diri. Repositioning, personal branding, atau I – Branding hanya semacam strategi untuk mencapainya. Tetapi yang menjadi kekuatan dasar menuju keberhasilan adalah kualitas karakter. (*)
Disusun dari berbagai sumber.
Penulis: peminat manajemen.
Strategi Peningkatan Citra Diri dengan Personal dan I-Branding
Teh Premium Baru, 'Sosro Heritage'!

Di awal bulan Desember 2009, Sosro memperkenalkan salah satu produk teh premiumnya yaitu 'Sosro Heritage' yang tampil dalam kemasan menarik. Teh premium ini tampil dalam bentuk 3D yang lebih edukatif dan interaktif. Apa saja keistimewaan 'Sosro Heritage'?
Indonesia dikenal memiliki kekayaan budaya dan alam yang luar biasa dari Sabang sampai Merauke. Diantara banyaknya kekayaan tersebut, salah satu kekayaan alam yang menjadi primadona kelas dunia adalah pucuk-pucuk daun teh berkualitas prima. Sehingga teh pun dijadikan gerbang untuk mengenal budaya bangsa yang oleh PT. Gunung Slamat dikemas dalam sebuah produk, yaitu 'Sosro Heritage'.
Sosro Heritage adalah teh celup premium yang menghadirkan pesona dan keragaman budaya Indonesia yang memikat. Kemasan tersebut merupakan bentuk inovasi dari kemasan lama, yaitu Sosro Premium . Bertemakan The Amazing Stories of Indonesia, di awal bulan Desember 2009 ini Sosro Heritage tampil dalam kemasan yang lebih edukatif dan interaktif.
Keistimewaan Sosro Heritage dikemas khusus dalam amplop unik dengan sentuhan pesona budaya tanah air, yaitu corak batik. Hal ini bertujuan menjaga aroma daun teh agar selalu segar. Selain itu teh premium ini dibuat dari tiga pucuk daun teh teratas yang mengandung kadar polyfenol dan catechin paling tinggi. Sehingga teh yang dihasilkannya pun berkualitas tinggi dan premium.
Untuk setiap kemasan Sosro Heritage mengangkat konsep 'story telling' packaging. Dimana setiap isi kemasan mempersembahkan cerita-cerita edukatif yang memperkaya pengetahuan tentang bangsa dan tanah air Indonesia.
Sosro Heritage juga ditawarkan dalam 12 edisi. Setiap edisi memiliki pecahan puzzle yang berbentuk peta, dan jika semuanya digabung akan membentuk peta keseluruhan Republik Indonesia. Kemasan baru ini juga menampilkan gambar alam Indonesia dengan efek 3D, seperti gambar Tari Kecak Bali, Candi Borobudur, dan Taman Laut Bunaken.
"Dengan kehadiran kemasan baru produk Sosro Heritage kami berharap masyarakat Indonesia akan makin meningkatkan budaya minum teh dan mencintai produk asli Indonesia. Selain itu dengan produk ini kami ingin memperkenalkan Indonesia ke dunia internasional lewat teh," ujar Soehartono Gunawan , selaku Marketing Director PT. Gunung Slamat.
Dalam acara peluncuran kemasan baru ini juga turut hadir Bondan Winarno selaku pemerhati kuliner sekaligus pendiri komunitas Jalansutera. Menurutnya sudah saatnya Indonesia sebagai salah satu negara penghasil teh terbesar di dunia menghadirkan teh dengan tampilan berkelas. "Tak hanya kemasannya yang baik, tampilannya pun harus istimewa. Untuk Sosro Heritage ini saya rasa pantas disajikan untuk fine dining atau santapan yang lebih serius," ujar Pak Bondan.
Sostro Heritage hadir dalam 3 varian yang bisa dipilih yaitu teh hijau, teh melati, dan teh hitam. Setiap jenis teh memiliki keunggulan tersendiri seperti teh hijau yang memiliki aroma dan warna hijau daun alami, serta kandungan antioksidan yang menyehatkan tubuh. Sedangkan teh melati yang menguarkan aroma bunga melati menciptakan sensasi nan eksotis bagi kalangan pencinta teh. Lalu ada teh hitam yang berwarna pekat dan memiliki aroma lebih kuat dan unik.
"Salah satu misi rejuvenation Sosro Heritage adalah mengkampanyekan pentingnya keberadaan teh di negeri sendiri. Kami berharap masyarakat lebih meningkatkan budaya minum teh lokal, sebab teh bukan sekedar teman makan atau pelepas dahaga saja. Teh juga baik untuk kesehatan jika dikonsumsi dengan cara yang benar," terang Soehartono.
Kini kemasan baru Sosro Heritage sudah bisa diperoleh di berbagai pusat perbelanjaan dan supermarket. Nah, buat pencinta teh... minum teh yuk!
Teh Celup Premium dengan Kemasan Mewah
Apakah fungsi kantong teh celup berikut kotak kemasannya bagi Anda, para penikmat teh? Mungkin hanya untuk melindungi teh celup itu sendiri agar tidak terpapar udara. Namun bagi PT Gunung Slamat, produsen teh Sosro untuk divisi ready to serve, kemasan teh celup bisa memberi makna yang jauh lebih luas dari sekadar pelindung.
Pada produk barunya yang bertema The Amazing Stories of Indonesia, Sosro Heritage menggunakan kemasan yang sifatnya edukatif dan interaktif. Setiap kantong celup tehnya dikemas dalam amplop berdesain batik. Pengemasan ini bertujuan untuk menjaga aroma dari daun teh itu sendiri agar selalu segar.
Kemasan dari Sosro Heritage ini berbeda dari yang biasanya, karena mengangkat konsep "story telling packaging". Dengan demikian, bila membeli teh celup Sosro Heritage, Anda akan disuguhi kemasan teh celup yang dilengkapi cerita-cerita mengenai warisan budaya Indonesia. Sosro Heritage juga terdiri atas 12 edisi, yang masing-masing merupakan pecahan puzzle berbentuk peta. Jika ke-12 edisi ini Anda kumpulkan, pecahan puzzle tersebut akan membentuk peta Indonesia secara lengkap. Yang lebih unik lagi, kemasan baru ini juga bisa menampilkan gambar dengan efek 3D, sehingga Tari Kecak Bali atau keindahan Taman Laut Bunaken bisa Anda "tonton" seolah-olah hidup.
Konsep rejuvenation ini dimaksudkan untuk memberi edukasi pada masyarakat mengenai pengetahuan akan bangsa dan tanah air Indonesia. Namun, menurut Soehartono Gunawan, Marketing Director PT Gunung Slamat, konsep ini juga untuk mengampanyekan betapa pentingnya mengapresiasi keberadaan teh di negeri sendiri. Maklum saja, tingkat konsumsi teh di Indonesia masih terbilang rendah.
"Kami mengharapkan masyarakat sadar bahwa manfaat teh bukan hanya sekadar teman makan atau pelepas dahaga, tetapi juga baik untuk kesehatan. Dan, teh yang menunjang kesehatan adalah teh berkualitas baik, dan dikonsumsi secara benar," paparnya.
Pada Sosro Heritage, daun-daun teh dan bunga melati bahan baku teh celup dipilih secara khusus untuk menghasilkan teh yang berkualitas tinggi dan premium. Daun teh yang dipilih berasal dari tiga pucuk daun teh yang teratas, karena pada tiga pucuk teratas inilah tersedia teh dengan kadar polyfenol dan catechin paling tinggi.
Sosro Heritage terdiri atas tiga varian, yaitu teh hitam, teh melati, dan teh hijau.